Potret Pandangan Budaya Aceh di Mata Milenial

Aceh merupakan nama sebuah suku di ujung barat Indonesia. Penduduknya mayoritas beragama Islam, yang hidup di pesisir juga pedalaman Provinsi Aceh. Dilansir Wikipedia, Aceh pertama dikenal dengan nama Aceh Darussalam (1511–1959), kemudian Daerah Istimewa Aceh (1959–2001), Nanggroe Aceh Darussalam (2001–2009), dan terakhir Aceh (2009–sekarang). Sebelumnya, nama Aceh biasa ditulis Acheh, Atjeh, dan Achin

Kuatnya ajaran Islam serta perpaduan etnis Melayu dan etnis Cham, rumpun Vietnam Kamboja, menjadikan Aceh sebagai daerah istimewa. Seperti Yogyakarta yang diistimewakan sebab kekentalan otoritas kerajaannya, Aceh menjadi istimewa lantaran dominasi Islam itu sendiri. Lantas bagaimana budaya Aceh di mata milenial?

Ragam Budaya Aceh

Budaya Aceh (Foto: Ametunigha.blogspot.com)

Kota Generasi Milenial

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) juga memiliki kebudayaan khas, unik, dan terkenal bahkan ke mancanegara. Misalnya Tari Saman, yang sudah diakui dunia. Karenanya, bagaimana generasi milenial memandang kebudayaan tersebut menjadi sesuatu yang mesti ditelisik.

Seperti dilansir dari Beritagar, pengolahan data mikro Survei Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2016 menunjukkan bahwa generasi milenial di Aceh menduduki persentase paling tinggi daripada di kota-kota lain yang setingkat.

Sebab itulah, Aceh dikategorikan sebagai Kota Milenial.  Bahkan, per 2017, Aceh dinobatkan sebagai pemenang dari kategori lomba Kota Pilihan 2017 kategori “Kota Milenial”, mengungguli daerah lain seperti Kupang, Ternate, Kendari, Denpasar, Jayapura, dan Jakarta Barat, serta Jakarta Utara.

Aceh Pemenang Kota Milenial 2017 (Kaskus)

Pemenang Kota Milenial 2017 (Kaskus)

 

Kebudayaan yang Melekat

Kebudayaan menjadi sesuatu yang kekal bila diwariskan secara turun-temurun terhadap setiap generasi. Pewarisan tersebut tidak saja menciptakan kecintaan, melainkan membuat budaya tersebut melekat dalam diri mereka. Sebagai objek regenerasi, milenial masuk juga dalam pewarisan ini.

Beberapa budaya yang melekat di Aceh dapat diklasifikasi ke dalam beberapa jenis, yaitu:

  1. Tarian Adat

Selain Tari Saman yang terkenal, tari adat di Aceh merupakan budaya yang sangat melekat di masyarakatnya, misalnya Tari Seudati, Tari Didong, Tari Laweut Aceh, Tari Duek Aceh, dan Tari Tarek Pukat.

Jika Tari Saman dikenal dengan semarak gerakannya yang indah dan menarik, serta gerakan para penari yang membuat meriah meski tanpa alat musik. Tari Seudati dikenal karena gerakannya yang lugas dan enerjik, lincah dan cepat. Sehingga, menghasilkan irama gerakan yang harmonis.

Banyak generasi muda Aceh yang menekuni tari-tari adat ini. Generasi milenial di sana ternyata juga memiliki antusiasme untuk melestarikan tari sebagai kemapanan kebudayaan lokal mereka.

  1. Rumah Adat

Krong Bade adalah nama rumah adat di Aceh, yang memiliki desain rumah panggung dengan jarak lantai 2,5 hingga 3 meter di atas permukaan tanah. Konstruksi rumah adat ini secara keseluruhan memakai kayu, kecuali atap yang terbuat dari anyaman daun enau.

Rumah adat ini mirip dengan kobhung dalam adat suku Madura, dan mirip berugak dalam adat suku Sasak, Lombok. Bagian kolong, biasanya dipakai untuk menyimpan stok makanan, seperti beras dan sebagainya. Sementara bagian atas untuk istirahat hingga musyawarah.

  1. Makanan Adat

Selain tarian dan adat rumah tersebut, makanan adat di Aceh merupakan budaya yang melekat dalam keseharian mereka. Makanan adat Aceh rata-rata punya rupa identik dengan kuliner khas India, misalnya kerambil kering alias gulai.

Makanan-makanan lain juga demikian. Mulai dari sanger, kembang loyang, manisan pala, keumamah, dan pisang sale. Untuk makanan dengan bahan dasar ikan, Aceh juga makanan adat yang dinamai eungkot paya.

  1. Pakaian Adat

Dalam acara tertentu, daerah-daerah pasti punya pakaian khasnya masing-masing. Baik acara pernikahan, upacara adat, dan lainnya. Pakaian adat menjadi simbol pembeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Di Aceh, pakaian adat ada dua macam, yaitu untuk laki-laki dan untuk perempuan. Laki-laki memakai perpaduan baju Meukasah dengan celana Cekak Musang. Sementara perempuan memakai perpaduan antara baju Kurung Lengan Panjang dengan celana Cekak Musang.

Baju Meukasah memiliki warna hitam yang dilengkapi pernik-pernik kuning keemasan dan baju Kurung Lengan Panjang bersifat longgar & tertutup. Sementara celanan Cekak Musang berjenis longgar panjang. Untuk kalangan perempuan, pakaian tersebut juga dikombinasikan dengan jilbab.

  1. Upacara Adat

Biasanya, di Aceh, adat ini dilakukan ketika sedang mengadakan acara perkawinan dan lain sebagainya. Umpamanya upacara Peusijuek, yang dilakukan dengan memercikkan campuran air dengan tepung tawar kepeda orang yang punya hajat tertentu.

  1. Lagu Daerah

Juga merupakan sesuatu yang tidak boleh absen yakni lagu khas daerah, yang menjadi identitas pengenal daerah itu sendiri. Lagu daerah Aceh sudah menjadi budaya yang melekat, seperti lagu Piso Surit, Tawar Sadengi. Aneuk Yatim, Lembah Alas, dan Bungong Jeumpa.

  1. Senjata Tradisional

Senjata tradisional Aceh yang terkenal yaitu Rencong, yang dipakai suku Aceh di masa kesultanan mereka. Jenis Rencong di antaranya yaitu: Rencong Meopucok, Rencong Meucugek, Rencong Pudoi, dan Rencong Meukuree.

 

Ciri Khas Budaya Aceh

Kalau diamati, segala aktivitas kebudayaan di Aceh memiliki ciri yang khas. Setidaknya ada 3 hal, yakni:

  1. Bernuansa Islami, misal desain pakaian adat yang berlandaskan kewajiban menutup aurat, yakni tertutup dan longgar
  2. Kental adat Melayu, yang bisa dilihat melalui rumah adat serta tarian-tarian lokal Aceh
  3. Mengalami kontinuitas, ini bisa dilihat melalui peran generasi milenial yang sebaris di dalam produk regenerasi. Tarian Saman banyak diperankan generasi muda dan hari-hari ini mereka bahkan juga ikut mempromosikan lagu daerah Aceh ke ranah nasional.

 

Sisi Menarik Budaya Aceh

Budaya Aceh memiliki keunikan tersendiri yang menggambarkan betapa daerah tersebut kaya akan kearifan lokal. Tentu, hal ini menjadi menarik untuk diperhatikan. Adapun beberapa sisi menarik tersebut ialah:

  1. Penetrasi sempurna antara budaya Melayu dengan nilai esensial Islam, yang bisa diperiksa misalnya melalui pakaian adat
  2. Segala simbol, misalkan simbol harmoni gerakan tari, menyiratkan kekompakan sebagai modal utama. Dan dengan modal tersebut, dipahami bahwa keindahan itu tercipta bilamana kekompakan menjadi pegangan bersama
  3. Kemegahan adat perkawinan, misalnya, yang di dalamnya beberapa kebudayaan Aceh disemarakkan, mengindikasikan bahwa Aceh adalah daerah yang berdaulat. Ini tentu menarik, sebab di atas kedaulatan tersebut, nuansa Islam selalu mendominasi.

Aceh Hebat (disbudpar.acehprov.go.id)

Posisi Generasi Milenial

Keterlibatan milenial dalam melestarikan budaya Aceh merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Bagaimana kaum milenial memandang kebudayaan di sana juga menjadi taruhan masa depan kebudayaan Aceh itu sendiri.

Tari Saman, makanan adat, lagu daerah, serta budaya-budaya lainnya merupakan kearifan lokal (local wisdom) yang wajib diwariskan antar generasi dan milenial tidak ikut larut dalam membatasi tradisi, bahkan meniadakan sebagiannya lantaran modernitas.

Budaya Islam yang sangat kentara, seperti penerapan Perda Syariah dan larangan tertentu bagi kaum perempuan mesti disikapi secara positif, yaitu sebagai hadiah dari keistimewaan yang dimiliki Aceh. Ini juga kenapa Aceh disebut Serambi Mekah.

Namun demikian, dalam tataran yang pasti juga memiliki geliat ke arah sebaliknya tentang bagaimana budaya Aceh di mata milenial. Apalagi bagi mereka yang telah terkontaminasi mutlak modernitas akan menganggap kebudayaan tersebut sebagai sesuatu yang perlu direkonstruksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *